Unsur-unsur dalam Sebuah Cerpen

Cerita pendek atau cerpen dapat lahir melalui berbagai proses. Bisa bermula dari pesanan atau lomba yang temanya sudah ditentukan, bisa dari ide cerita yang berasal dari rekaan murni pengarangnya, dapat dari rekayasa imajiner setelah melihat pemandangan unik atau cerita orang-orang di sekitar, dapat dari beberapa penggalan cerita dan berita yang digabung dan disusun jadi kisah fiktif, bisa dari kisah nyata yang direka ulang secara kreatif, dapat dari ingatan atau kenangan masa kecil yang diimajinasikan dan diolah kembali menjadi fiksi, dapat pula dari berita menarik di surat kabar yang dikembangkan menjadi fiksi, atau bahkan dari benda yang ditemukan di jalan dan mengusik imajinasi kita.

Tetapi, proses sesungguhnya tentu sedikit lebih rumit dari gambaran yang menyederhanaan prose tersebut. Dan, yang paling penting dari itu semua adalah proses menulis cerpen itu sendiri. Ini merupakan proses yang tidak  dapat diabaikan, karena tanpa ditulis, sebuah cerpen tidak akan pernah lahir. Nah, dalam proses menuliskan cerita pendek inilah kita harus yakin bahwa menulis cerpen itu gampang, dan dapat dilakukan oleh siapapun dengan pengetahuan secukupnya – secukupnya saja – tentang cerpen, yang dapat diperoleh hanya dengan membaca makalah atau buku tipis tentang kiat menulis cerpen, atau bahkan sekadar membaca cerpen-cerpen yang bagus karya orang lain untuk mengenal karakter dasarnya.

Di antara berbagai proses untuk menulis, di antara berbagai proses kelahiran cerpen, menurut pengalaman, pengalaman empirik – melihat dan mengalami langsung – memberikan sumbangan yang paling besar dalam menulis cerpen. Pengalaman empirik tidak hanya dapat menjadi sumber tematik maupun sumber ide cerita, tapi juga acuan model pengembangan konflik agar tetap logis, sumber latar cerita agar memiliki detil yang kuat, dan sumber model untuk menciptakan berbagai karakter tokoh.

Latar cerita akan cenderung menjadi lemah jika tidak ada acuan keadaan senyatanya yang didapat cerpenis dengan melihat langsung suatu tempat. Karakter tokoh cenderung akan kurang kuat, dan mungkin akan sangat aneh, jika tidak ada model dari dunia nyata yang dilihat atau dipelajari oleh cerpenis. Tentu, terkecuali fiksi fantasi, yang semuanya serba diciptakan, sejak karakter hingga latarnya, karena logika yang diterima pembaca atau penonton adalah logika dongeng atau logika fantasi, seperti misalnya serial Harry Potter, Dora Emon, dan berbagai dongeng kontemporer lainnya.

Pengalaman empiris umumnya datang dari mata, dari melihat. Pengalaman empirik yang lebih dalam adalah melihat sekaligus mengalami langsung, atau terlibat secara emosional. Dari melihat sesuai yang menarik, yang mengusik, hati kemudian akan tertarik, akan berempati, akan mendapat kesan yang sulit dilupakan. Karena itu, agar kita kaya pengamalan empirik, perlu selalu berempati pada lingkungan sekitar, pada lingkungan alam, lingkungan kampung, lingkungan sosial; berempati pada hutan, pada taman, pada bunga, pada pohon, pada rumah-rumah dan bangunan di tepi jalan, pada saudara, pada tetangga, pada kawan kerja, dan sahabat.

Dengan terus berempati kita akan mendapatkan banyak sumber model latar, model benda-benda yang menarik, model karakter, dan berbagai cerita yang dapat dikemas menjadi ide cerita untuk cerpen.
Dengan demikian, sumber ide, atau sumber ilham, bertebaran di lingkungan sekitar pengarang, di kampus, di balaikota, di hotal, di pasar, di masjid, warung kopi, di gang-gang kumuh, di trotoar-tortoar pertokoan, di persawahan, di taman bunga, di pinggir kali, di panas terik pantai, di dalam kabut dingin pegunungan, di dalam gerbong kereta api, di dek kapal penumpang, kepadatan bus kota, dan di tengah kemacetan lalu lintas sekalipun.

Dari tebaran sumber ilham itu, yang diperlukan adalah kepekaan sang pengarang untuk menangkap isyarat-isyarat kreatif yang dilihatnya dan kemampuan imajinasinya untuk merekayasa serangkaian cerita (cerpen). Sentuhan imaji akan menggerakkan rangkaian cerita imajinatif, jika sang cerpenis ‘jatuh cinta’ atau terpanggil rasa empatinya pada apa yang dilihatnya. Ibarat orang jatuh cinta, dari mata turun ke hati, sentuhan imaji itu akan menggerakkan imajinasinya untuk membangun dunia rekaan (fiksi/cerpen) yang sering di luar dugaannya. Dan, untuk membuka ruang gerak yang lebih leluasa bagi imajinasi, sang cerpenis perlu duduk beberapa saat di dekat pemandangan unik yang memarik perhatiannya. Amatilah benda itu, imajinasikanlah bahwa benda itu memiliki cerita, sejarah, atau biografi yang unik dan menarik. Lalu, kembangkanlah cerita yang menarik dari benda itu.

Sekuntum mawar yang mekar sendiri di tengah padang rumput, misalnya, bagi cerpenis yang kreatif, bisa menghadirkan berbagai kemungkinan cerita, sejak kisah cinta yang romantik sampai yang tragis. Misalnya, pada suatu musim, mawar tiba-tiba menjadi bunga yang langka. Berhari-hari seseorang mencari mawar itu untuk menyatakan cintanya pada sang kekasih, dan ketika ia menemukan mawar itu di tepi padang rumput, dan membawanya kepada sang kekasih, ternyata ia telah meninggal tertembak polisi saat ikut berdemonstrasi. Dengan rangkaian cerita itu, fenomena alam tersebut tidak hanya diseret ke persoalan cinta yang romantik, tapi juga persoalan politik yang galau.

Melihat seorang gelandangan berkaki satu terkapar di depan toko Cina, seorang pengarang dapat saja membayangkan bahwa gelandangan itu adalah mantan pejuang revolusi kemerdekaan yang kakinya tertembak oleh serdadu Belanda. Maka, mengalirlah kisah mantan pejuang yang tersia-sia akibat ketidakbecusan pemerintah pengurus para veterannya. Melihat sebungkus nasi terinjak-injak berantakan di tengah jalan, seorang pengarang dapat juga mengimajinasikan bahwa nasi itu sebenarnya akan dikirim kepada seorang demonstran penderita sakit mag yang kelaparan dan terkurung di tengah barikade tentara, tapi ketika nasi itu sampai sang demonstran keburu ‘diamankan’ dan nasi itu tertinggal dan terinjak-injak oleh sepatu tentara.

Rekaan cerita yang menarik pun dapat dibangun ketika seorang cerpenis melihat rumah tua yang sepi dan terpisah dari kampung, rangkaian bunga yang tercampak di tepi jalan, celana panjang robek-robek yang dikibarkan pada tiang bendera, pemuda yang merenung sendiri di tepi rel kereta api, wanita cantik yang berdiri mematung sendiri di buritan kapal (ingat adegan film Titanic atau cerpen “Maukah Kau Hapus Bekas Bibirnya dengan Bibirmu” karya Hamsad Rangkuti), atau seorang Muslimah yang tiba-tiba mengganti jilbabnya dengan rambut pirang. Tentu, bahan cerita yang paling otentik adalah ‘biografi’ benda atau kisah nyata obyek cerita itu sendiri, yang dapat diperoleh sang cerpenis dengan mewawancarainya. Teknik observasi untuk memperoleh bahan cerita seperti ini tidak hanya dapat diperoleh dari pemandangan aneh di tepi jalan, tapi juga dari orang-orang di sekitar sang cerpenis. Sehingga, sang cerpenis tinggal mengubah bahan cerita itu menjadi fiksi.

Tentu, agar kisah-kisah fiktif (cerpen) itu menjadi lebih bermakna, perlu diberi sentuhan filsafat hidup, moral, agama, atau ajaran-ajaran kibajikan lainnya. Agar sentuhan itu dapat hadir sebagai pencerah sekaligus pemerkaya batin pembaca, sang pengarang pun harus banyak membaca. Ia harus menjadi cendekiawan yang terus meneteskan kearifan, kebijakan dan makna hidup bagi pembacanya. Karya sastra yang baik, menurut Sutardji Calzoum Bachri, adalah yang memberikan sesuatu (something) kepada pembacanya. Sesuatu it adalah ‘kearifan hidup yang teraktualisasikan’ yang mebuat pembaca sulit melupakannya, karena kesannya yang begitu mendapalam. Dan, agar kisah-kisah fiktif itu menarik, pengarang perlu menguasai teknik-teknik bercerita secara baik, seperti pengaluran atau plotting, dan karakterisasi.

Satu hal lagi yang harus disadari oleh penulis fiksi (cerpen) adalah bahwa dunia di dalam fiksi adalah dunia rekaan. Memang bisa saja karya sastra diangkat dari kisah nyata, dari cerita kawan atau saudara, dari kisah hiduo mereka atau kisah hidup kita sendiri, dari peristiwa sejarah, dari hasil penelitian, bahkan dari hasil kerja jurlialistik, seperti cerpen-cerpen jurnalistiknya Seno Gumira Ajidarma. Tetepi, seorang penulis fiksi tidak terikat oleh realitas faktual itu. Ia bebas menciptakan dunia rekaannya sendiri dari realitas keseharian yang ditemukannya. Seperti dikatakan Umar Junus dalam Dari Peristiwa ke Imajinasi, realitas yang ada di dalam karya sastra adalah realitas imajinatif, realitas yang sudah mengalami rekayasa ulang menjadi ‘realitas baru’ khas pengarang, yang tidak dapat (dan tidak harus) dibuktikan kebenaran realitas faktualnya.
Memang, sering ada kesamaan antara cerpen dan feature (berita kisah). Sering keduanya ditulis dengan teknik bertutur yang sama, dan sama-sama diperlukan kemampuan imajinasi untuk menyusunnya. Tetapi, keduanya tetap berbeda. Feature tetaplah karya jurnalistik yang harus siap dibuktikan kebenaran faktualnya. Sedangkan cerpen tidak demikian, karena cerpen tetaplah fiksi. Meskipun materi atau ide ceritanya bisa berasal dari realitas yang ditemukan oleh wartawan di lapanga, cerpen bukanlah karya jurnalistik yang harus siap dibuktikan kebenaran faktualnya.

Jika bagi seorang wartawan yang dibutuhkan adalah kecermatannya dalam mencatat serta merekonstruksi realitas faktual ke dalam tulisannya, maka bagi seorang cerpenis (juga novelis) yang diperlukan justru kekuatan dan kebebasan imajinasinya untuk mengembara secara liar ke berbagai kemungkinan di balik realitas faktual itu. Peraih Nobel Sastra, Tonni Morrison, pernah menasihatkan, bebaskanlah imajinasimu mengembara secara liar ke dalam ‘dunia gelap’ di balik realitas yang kasat mata.

Kegiatan menulis cerpen, dimulai dari adanya ide – sering juga disebut sumber ilham/inspirasi – yakni sesuatu yang dengan sangat kuat mendorong sang cerpenis untuk menulis (melahirkan) cerpen. Apapun bentuk sumber idenya, apakah hanya penggalan cerita kawan, tema pesanan panitia lomba, benda menarik di tepi jalan, kisah nyata seseorang, berita di surat kabar, ataupun ide cerita yang tiba-tiba turun dari langit – agar menjadi cerpen yang bagus, harus dikembangkan menjadi kisah utuh dengan memanfaatkan unsur-unsur cerita, sejak membuat alur/plot, karakterisasi, pemberian latar yang hidup, sampai penciptaan konflik, klimaks dan ending.

Unsur-unsur Cerpen

Unsur-unsur Cerpen


Alur atau plot adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran jalin-menjalin antar-keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan obyek yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Dengan kata lain, narasi adalah penggambaran obyek yang bergerak, seperti laku tokoh, gerak tangan, gerak bibir, langkah kaki, atau gerak seluruh tubuh. Bisa juga gerak binatang, gerak angin, atau gerak air dari satu tempat ke tempat lainnya.

Alur atau plot yang baik akan berupa rangkaian sebab-akibat yang membangun konflik dan menggerakkan cerita menuju klimaks. Ibarat tubuh, struktur cerita adalah fisiknya, dan plot adalah gejolak jiwa atau ‘kekuatan dinamis’ yang penuh gairah membangun konflik, mesin yang menggerakkan cerita ke arah klimaks dan ending. Di dalam pengaluran (plotting) seperti inilah tema dikembangkan menjadi persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh, digesek-gesekkan, dibentur-benturkan menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Di sinilah kecerdasan dan kearifan pengarang ‘diuji’ oleh persoalan yang diciptakannya sendiri, untuk menemukan solusi yang cerdas dan arif sehingga karyanya mampu memberika sesuatu (something) kepada pembacanya.

Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak pasca-gempa. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita.

Sedangkan penokohan atau karakterisasi adalah penciptaan tokoh-tokoh cerita yang dibutuhkan oleh tema dan plot. Contoh sederhananya: untuk tema cinta yang berakhir bahagia, misalnya, normalnya cukup dibutuhkan sepasang kekasih dan orang tua yang akhirnya merestui hubungan mereka. Namun, ceritanya tentu akan datar-datar saja dan sangat tidak menarik. Maka, perlu dihadirkan tokoh antagonis, yang mencoba merecoki kisah cinta mereka, agar tegang dan penuh tantangan, serta membuat pembaca jadi geregetan. Tokoh antagonis juga akan menjadi “penguji” kesetiaan dan kesejatian cinta pasangan tersebut.

Kehadiran tokoh antagonis juga perlu untuk kisah cinta yang tragis, yang membuat hubungan sepasang kekasih itu berakhir getir. Di sinilah diperlukan karakterisasi yang kuat, agar konflik menjadi menarik dan plot bergerak penuh ketegangan (suspense). Karakter tiap tokoh digambarkan melalui narasi, deskripsi, dan dialog. Semakin tajam perbedaan karakter antar-tokoh cerita, akan makin tajam konflik yang terjadi, dan plot akan gampang bergerak ke arah krisis untuk menuju klimaks. Plot menjadi kental, penuh ketegangan (suspense), sehingga cerita tidak bergerak datar, tapi dinamis.

Dalam cerpen konvensional, tokoh protagonis adalah tokoh utama yang biasanya digambarkan serba baik, heroik, dsb. Sedangkan tokoh antagonis adalah penantang tokoh utama, biasanya digambarkan serba jelek, jahat, licik, dan menyebalkan. Namun, dalam cerpen kontemporer, bisa juga tokoh utamanya tidak sempurna, sementara tokoh lawannya malah memberi hikmah atau menyempurnakan tokoh utama. Adanya tokoh protagonis dan antagonis membuat konflik jadi tajam dan mencekam. Di luar keduanya, ada tokoh pembantu dan figuran.

Tokoh atau karakter apapun di dalam cerpen dapat dihadirkan dari rekaan murni, bisa juga dicarikan modelnya dari orang-orang di sekitar cerpenis. Maka, hati-hati kalau dekat dengan cerpenis. Kalau macam-macam, dan menyebalkan, Anda dapat dijadikan tokoh antagonis di dalam cerpennya.

Pengembangan ide dengan teknik dan unsur-unsur cerita seperti di atas lazim dipakai pada fiksi-fiksi romantik dan fiksi realistik, yang masih memperhatikan pentingnya unsur-unsur cerita secara lengkap, serta mengenal runtutan cerita (struktur alur) sejak pemaparan, krisis, klimaks sampai ending.

Kemampuan untuk mengolah tema melalui unsur-unsur dan teknik bercerita itulah yang lazim menjadi kekuatan fiksi realistik dan fiksi romantik. Namun, jenis-jenis fiksi simbolik, surealis, atau satire, sering tidak lagi memperhatikan kelengkapan unsur-unsur cerita tersebut, dan mencoba menggantikan kekuatan cerita itu dengan kekuatan lain, seperti kekuatan simbol (Danarto), teror logika (Putu Wijaya), atau keunikan imajinasi (Seno Gumira Adjidarma).

Dalam teori konvensional, terutama pada cerpen romantis dan realis, alur atau plot cerpen selalu dibuka atau dimulai dari paparan, disusul konflik, memuncak pada klimaks, dan diakhiri dengan ending. Alur yang bersifat progresif taat pada urutan pengisahan yang runtut seperti itu.

Paparan, adalah penggambaran situasi ketika cerita mulai bergulir, baik situasi personal tokoh utama cerita maupun situasi kolektif yang melibatkan beberapa tokoh sekaligus. Paparan biasanya disertai dengan sedikit gambaran latar cerita – tempat cerita berlangsung dan dalam situasi seperti apa. Bisa situasi dalam keluarga, di tengah lingkungan alam, sosial, politik, ekonomi, krisis, atau perang.

Konflik, adalah gambaran ketika mulai terjadi krisis dan para tokoh cerita mulai terlibat dalam perbedaan pendapat, kepentingan, dan tujuan. Para tokoh mulai saling bergesekan dan berkonflik. Perbedaan karakter tokoh akan membuat konflik makin menajam dan mencekam. Konflik bisa saja terjadi secara tersembunyi dalam diri tokoh cerita (konflik batin) atau secara terbuka antar-tokoh cerita (konflik terbuka).

Klimaks, adalah ketika konflik mencapai puncaknya dan membutuhkan penyelesaian. Di sinilah pengarang diuji kecerdasan sekaligus kearifannya dalam menyelesaikan konflik, sekaligus memberi makna pada cerita. Penyelesaian konflik juga memberi peluang bagi pengarang untuk menyampaikan pesan yang diinginkannya.
Ending, adalah akhir dari cerita yang berfungsi menyelesaikan konflik sehingga cerita bisa ditutup. Dalam cerpen-cerpen konvensional, penulis biasanya mengakhiri ending secara jelas, dengan solusi persoalan yang tegas, dan bahkan sering dengan menghakimi tokoh-tokoh cerita. Misalnya, tokoh yang jahat digambarkan bernasib celaka. Atau nasib tokohnya berakhir tragis. Ada dua macam ending yang umum dipakai dalam cerpen romantis dan realis, yakni happy ending dan sad ending.

Pada era cerpen kontemporer, banyak cerpen yang ending-nya menggantung dan penyelesaian masalah atau penghakiman terhadap tokoh cerita diserahkan kepada pembaca. Begitu juga cara memulai cerita, tidak selalu dari pemaparan, tapi sering juga langsung ke konflik, bahkan klimaks, atau ending dulu; baru kemudian pengarang melakukan kilas balik sambil menyisipkan latar cerita.

Bagi penulis cerpen yang benar-benar sudah mahir, atau memiliki bakat menulis yang besar, kerangka cerita tidak pernah dianggap penting. Pertama, kerangka cerita sudah terbangun dengan sendirinya di dalam ruang imajinasi (kepala)-nya ketika ia mendapatkan ilham atau menerima sentuhan imaji. Dan, kedua, alur dan plot cerita dibiarkannya berkembang sendiri ketika ia menuliskan kisah tersebut sampai ending. Kerangka cerita justru sering dianggap membatasi keliaran dan kebebasan imajinasinya dalam mengembangkan cerita.

Tetapi, bagi penulis pemula (yang sedang belajar) atau yang kemahirannya pas-pasan, kerangka cerita sering berperan sangat penting. Pertama, kerangka cerita dapat memandu cerpenis ke arah mana cerita akan dikembangkan sampai ending, lengkap dengan arah alur, konflik, plot, penokohan dan karakterisasinya, serta bagaimana suspense (ketegangan) harus dibangun untuk memikat pembaca. Kedua, kerangka cerita dapat meminimalisir kemungkinan kemacetan ketika cerpenis menuliskan dan mengembangkan ceritanya. Dan, ketiga, kerangka cerita dapat membantu memberikan gambaran awal di mana saja cerpenis dapat menyisipkan pesan-pesan cerita.